Personal Branding, Writerpreneur dan Optimalisasi Media Sosial

Personal branding adalah proses pembentukan persepsi masyarakat atau publik terhadap aspek yang dimiliki seseorang. Aspek ini meliputi kepribadian, kemampuan, nilai, serta persepsi positif yang ditimbulkan atau ada dalam diri individu.

Bisa dikatakan, personal branding adalah praktik memasarkan orang dan karier mereka sebagai merek. Ini adalah proses berkelanjutan untuk mengembangkan dan mempertahankan reputasi dan kesan individu, kelompok, atau organisasi. Sedangkan beberapa praktik berfokus pada peningkatan diri, personal branding mendefinisikan kesuksesan sebagai bentuk pengemasan diri.

Pribadi Anda adalah cara Anda mempromosikan diri sendiri. Kombinasi unik dari keterampilan, pengalaman, dan kepribadian yang Anda ingin agar dilihat oleh pengikut Anda. Ini adalah penceritaan kisah Anda, dan kesan yang didapat orang dari reputasi online Anda.

Izinkan kami memulai dengan menyatakan bahwa personal branding bukan hanya untuk seseorang yang memiliki bisnis. Personal branding juga penting untuk influencer, pemikir terkemuka, atau orang yang ingin berbagi cerita dengan dunia.

Apakah Anda ingin dikenal sebagai tentang ahli wirausahawan, pembicara yang paling menginspirasi, atau sebagai orang yang menghabiskan hidupnya dengan sukarela dan memberi kembali kepada komunitasnya, tidak ada jawaban yang salah.

Jika Anda ingin membuat pengaruh di dunia, membuat strategi branding jelas merupakan tempat terbaik untuk memulai. Saat ekosistem digital berubah dan karier Anda berkembang, begitu pula dengan personal branding Anda. Sesuaikan persona Anda saat bertemu orang yang berbeda, temukan peluang jaringan baru, dan kembangkan karier Anda. Selama itu mencerminkan kehidupan profesional Anda, jangan ragu untuk membuat branding yang memungkinkan Anda untuk bersinar.

Writerpreneur adalah sebuah istilah yang merupakan gabungan dua kata yaitu “writer” dan “entrepreneur.” Kata “writer” berarti penulis dan kata “entrepreneur” artinya pebisnis. Dengan demikian, arti writerpreneur itu sendiri adalah penulis yang berbisnis dengan menjual karyanya sendiri berupa tulisan.

Writerpreneur sebenarnya bukan lagi merupakan istilah yang asing dalam dunia tulis menulis dan jagad perbukuan. Entah siapa yang pertama kali mengenalkan istilah ini. Namun yang jelas istilah Writerpreneur saat ini menjadi populer di kalangan penulis buku khususnya. Apalagi setelah industri penerbitan mandiri atau self publishing menjamur di beberapa tempat. 

Dengan kemajuan teknologi percetakan saat ini, selfpublishing bisa melayani cetak buku meskipun hanya satu buah saja. Istilahnya printing on demand (POD). Dengan teknologi ini Anda bisa mencetak sesuai kebutuhan, tanpa harus ada batas minimum order. Hal ini tentunya semakin memberikan angin segar bagi para penulis baru yang ingin berkarir sebagai Writerpreneur.

Istilah Writerpreneur diadopsi dari frasa (gabungan dua kata), writer dan interpreneur. ‘Writer’ adalah penulis, ’interpreneur’ adalah wirausaha. Jadi Writerpreneur kurang lebih maksudnya adalah wirausaha yang bergerak di bidang tulis menulis. Bahasa lainnya, membisniskan tulisan. Produknya tidak lain adalah tulisan itu sendiri. Segmen pasarnya bermacam-macam. Tergantung jenis tulisan yang Anda produksi.

Contoh riil siklus produksi atau kegiatan usaha seorang writerpreneur yang paling gampang saat ini adalah dalam dunia perbukuan. Seorang penulis baru, yang masih amatiran, bisa saja memproduksi tulisannya sendiri. Artinya ia menjadi penulis buku tersebut. Setelah proses produksi tulisan selesai, tahap selanjutnya adalah mencetak.

Optimalisasi media sosial adalah penggunaan sejumlah outlet dan komunitas untuk menghasilkan publisitas guna meningkatkan kesadaran akan suatu produk, merek layanan, atau acara. 
Secara umum media sosial mudah digunakan dan Anda bisa memulai dengan membuat postingan organik sesuai dengan produk dan jasa yang hendak Anda tawarkan. Anda tinggal membuat konten-konten yang sesuai dengan media sosial yang mau digunakan. Masalahnya, membuat konten dan melakukan postingan di media sosial tidak bisa dilakukan sembarangan dan sesuka hati. 

Anda perlu melakukan perencanaan dengan baik dan melakukan posting secara terjadwal. Menggunakan metode SMART akan sangat membantu Anda menetapkan tujuan dari digital marketing yang Anda lakukan. SMART di sini berarti Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Timely. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai metode SMART, Anda bisa temukan di artikel lain di bagian Digital Agency Knowledge di website ini. 

Tentukan Platform Media Sosial yang Tepat
Melalui media sosial, Anda dapat terhubung dengan pelanggan dan membangun interaksi dengan mereka. Di saat yang sama, Anda dapat sekaligus memperkenalkan produk, jasa, juga brand yang Anda usung. Namun agar konten Anda bisa menjangkau target audiens sesuai yang telah direncanakan, Anda perlu memilih platform media sosial yang mau digunakan, yang sesuai dengan tujuan pemasaran bisnis Anda. 

Alasan kenapa Anda perlu menetapkan platform yang mau digunakan, karena tidak semua orang bisa online melalui platform berbeda secara bersamaan dalam satu waktu. Anda harus memiliki data mengenai aktivitas pengguna untuk tiap-tiap platform dan bagaimana konten yang Anda buat mampu menjangkau mereka. 

Pada umumnya, semua channel media sosial sangat berpotensi untuk mengelola bisnis, tetapi Anda perlu memilih yang paling sesuai dengan brand dan produk Anda. Contoh, produk Anda adalah makanan bayi. Bisa saja Anda melakukan promosi di platform TikTok, namun faktanya keterjangkauan yang bagus untuk mempromosikan produk ini adalah di Instagram dengan target audiens ibu-ibu muda. 

Salah satu alasan menggunakan media sosial untuk bisnis, Anda dapat meraih micro-target audiens Anda. Namun hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengenali siapa audiens Anda. Bahasan ini sebenarnya masih berhubungan dengan poin dua di artikel ini. Produk tertentu cocok untuk audiens tertentu pula, dan otomatis pemasaran juga perlu dilakukan di media sosial yang cocok untuk keduanya agar promosi berjalan optimal. 

Oleh karena itu, Anda perlu melakukan analisis mengenai data audiens yang sudah Anda miliki saat ini. Lakukan kompilasi audiens antara satu platform media sosial dengan media sosial lainnya. Lihat mana media sosial yang berhasil menjaring lebih banyak audiens yang akhirnya jadi pelanggan Anda. Fokuslah pada media sosial tersebut dan kembangkan jaringan yang semakin luas di media sosial yang sudah terbukti mampu mengangkat brand dan produk Anda. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kartini Modern

Mengenal Cinta

Kerinduan