Kobaran Api
Rakit kayu bergerak dengan menyusuri hulu Sungai Cigayam. Tangan-tangan kecil menggerakkan rakit dengan batang bambu yang ditolakkan ke dasar sungai Cigayam yang tak begitu dalam. Sosok seorang yang ada diatas rakit atau perahu tersebut bukanlah seorang yang berbadan kekar dan juga besar. Badannya pun belum begitu kokoh dalam mengemudikan rakit tersebut. Kulitnya tampak seperti sawo matang, Rambutnya terurai rapih, dan badannya pun masih seperti anak-anak yang baru tumbuh dewasa, tinggi sekitar 145-155 cm. Dia bernama Haykal.
Seperti kebanyakan anak-anak yang tinggal di tepi sungai dan hutan, Haykal kecil akrab dengan derasnya air sungai dan luasnya hutan. Sungai mempunyai arti besar bagi anak-anak yang tinggal di pedalaman terutama Haykal. Sungai adalah tempat bermain, belajar, dan bekerja.
Mereka bermain sekaligus belajar dan bekerja. Sungai telah menjadi guru bagi anak-anak, yang mengajarkan mereka berenang dan bertahan hidup. Batang tombak diangkat tinggi-tinggi ke arah belakang. Mata tombak menjauh dari permukaan air, sedang mata sipit nya mengawasi gerakan ikan yang berenang di bawahnya.
Di saat yang tepat, tombak ditangan dihujamkan secara cepat ke dalam air. Ikan-ikan terkejut, 1 ekor ikan tidak sempat menghindar, karena mata tombak telah menembus ke badannya.
"Ayah dan Ibu pasti senang dengan hasil ku hari ini," gumam Haykal bangga dengan banyaknya ikan yang didapat olehnya.
Rumah Haykal tidak jauh dari aliran Sungai Cigayam. Tidak berbeda dengan rumah-rumah penduduk di kampung yang berdiam di pinggir hutan belantara, rumah keluarga Haykal juga beratap anyaman daun kelapa. Susunan daun kelapa yang rapat dan bertumpuk menjadikan rumah aman dari terpaan air hujan dan panas matahari.
Selain itu, diperlukan semacam tangga untuk memasuki rumah panggung yang berdinding kayu tersebut.
"Ayah, Ibu, aku telah pulang. Lihat ini, Aku membawa banyak ikan-ikan yang besar hari ini," ucap Haykal sambil menjinjing ikan hasil tangkapannya.
"Hebat kamu, Haykal! Anak lelaki ayah harus mahir berburu dan mencari ikan," kata Pak Samsudin sambil mengelus kepala Haykal.
"Haykal kan sudah besar, Ayah. Haykal harus mandiri dan harus bisa membantu ayah dan ibu," kata Haykal.
Haykal tidak mengetahui bahwa Pak Samsudin dan seorang istrinya bukan ayah dan ibu kandungnya. Haykal kecil lolos dari kebakaran yang menghanguskan rumah. Ayah kandungnya lah yang menyelamatkan Haykal sehingga lolos dari bencana. Namun, ayahnya yang kembali masuk dalam kobaran api yang menyala untuk menyelamatkan ibunya tidak berhasil keluar. Mereka terjebak dalam kobaran api yang tidak bersahabat.
Haykal yang malang pun menjadi seorang yatim piatu. Musibah yang merenggut nyawa keluarganya membuat iba penduduk kampung. Haykal yang sebatang kara kemudian kan di asuh atau dipelihara dan diangkat anak oleh Pak Samsudin dan istrinya. Beliau adalah salah seorang yang dituakan di kampung tempat keluarga Haykal tinggal.
"Aku aku janji akan merawatmu dengan baik, Nak, seperti orang tua kandungmu merawatmu," kata Pak Samsudin dihadapan Haykal dan warga kampung yang telah berduka.
Komentar