Haykal tentang Fajar

Malam kembali datang. Haykal sudah masuk ke pondok
untuk beristirahat. Rasa lelah telah mengalahkan
kesadarannya. Ia tertidur lelap hingga keesokan
harinya. Ia tak menyadari bahwa malam itu lahannya
kembali lebat seperti hutan belantara. Tujuh burung
misterius kembali mengubah lahan Haykal.

Keesokan paginya Haykal kembali tercengang melihat
hasil kerjanya kembali sia-sia.
"Ulah siapa ini? Berani menantang Haykal rupanya.

Akan kucari siapa yang berbuat ini," kata Haykal sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ia membersihkan kembali lahannya. Sambil
memikirkan siasat untuk mencari pelakunya. Setelah
selesai membereskan lahan yang rimbun Malamnya
Haykal segaja berjaga di sekitar pondoknya. Tubuhnya
ditutupi hijau dedaunan sehingga tidak tampak ada
sosok manusia di sekitar situ.

Lama Haykal menunggu di balik rimbun daun. Matanya
mengawasi semua sudut ladang yang disinari bulan
purnama. Tepat tengah malam mulai tampak kawanan burung yang sangat indah turun di lahan yang diolah
Pego.

"Aneh. Kenapa ada burung-burung yang berkeliaran
di tengah malam begini? Bukankah mereka seharusnya
berada di dalam sarang dari senja?" Haykal kebingungan.
Namun, Haykal tetap memperhatikan segala tingkah laku
sang burung hingga mereka menumbuhkan kembali
semua pohon di lahannya dalam sekejap.

Haykal meyakinibahwa ladangnya kembali
lebat karena ulah sang burung, apalagi ia sudah
menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Haykal
pun menyiapkan kembali siasat untuk menangkap para
burung yang mengganggunya. Hari itu ia putuskan
untuk membereskan sebagian ladang dan menyiapkan
perangkap untuk para burung. Ia siapkan banyak
jerat dan getah pada hampir semua batang, dahan,
dan ranting tempat burung-burung aneh itu hinggap.
Harapannya cuma satu, burung pengacau itu dapat
tertangkap sehingga tidak mengganggu pekerjaannya
lagi.

"Tampaknya manusia itu sudah terlalu lelah, dia tak
bisa merusak tempat bermain kita lagi. Lihatlah! Cuma
sebagian kecil yang ia rusak."
"Ayo, kita perbaiki lagi lahan ini. Aku yakin besok
dia akan pontang-panting lagi atau mungkin menyerah dan pergi dari tempat ini," kata burung yang paling kecil.

"Baiklah," sahut yang lainnya serempak. "Ayo, cepat! Sebelum fajar datang, kita harus kembali ke kayangan," kata burung yang paling tua. "Ahhh... tolong...! Aku terjebak," teriak seekor burung.

"Sial... manusia satu itu memasang jebakan. Hati hati! Aku yakin banyak jebakan di sekitar sini," sahut seekor burung untuk mengingatkan yang lainnya agar waspada.

Mereka mengerubungi kawannya yang terkena jebakan Haykal dan mencoba untuk membantu melepaskan jebakan itu. Namun, usaha mereka sia-sia. Getah yang digunakan untuk menjebak malah semakin lengket dan melilit ke seluruh badan. Burung malang itu tidak bisa terbang.

"Fajar sebentar lagi tampak. Pergilah kalian. Pulanglah ke kayangan," kata burung yang terperangkap dengan pasrah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kartini Modern

Mengenal Cinta

Kerinduan